Islam Kaffah

ALLAH SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah, 2/208)

SABAB NUZUL

Sabab nuzul ayat ini menurut Imam Al-Baghawi [1] berkaitan dengan masuk Islamnya seorang Ahli Kitab Yahudi Bani Nadhir bernama AbduLLAH bin Salam dan teman-temannya, namun setelah memeluk Islam ia tetap menganggap mulianya hari Sabtu & tidak mau memakan daging unta, kemudian mereka pun menyatakan: “Wahai RasuluLLAH, bukankah Taurat itu adalah KitabuLLAH? Maka izinkan kami tetap membacanya dalam shalat-shalat malam kami?” Maka turunlah ayat ini. Hadits ini disebutkan pula oleh pengarang kitab Jallalain dalam tafsirnya [2] dan pengarang kitab Al-Wajiz [3].

Sementara pengarang kitab Zaadul Masiir menyatakan [4] bahwa ada 3 pendapat berkaitan dengan nuzul-nya ayat ini: Pertama, ia berkaitan dengan peristiwa Ibnu Salam (sanadnya dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas ra), kedua ia berkaitan dengan Ahli Kitab yang tidak mau beriman pada nabi Muhammad SAW (sanadnya diriwayatkan juga - tapi menggunakan kata ruwiya ‘an - dari Ibnu Abbas ra, disebutkan juga oleh Adh Dhahhak), ketiga ia diturunkan untuk kaum muslimin agar mengimani & melaksanakan semua syariat Islam (sanadnya diriwayatkan oleh Mujahid & Qatadah ra).

TAFSIR AYAT

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya [5] menafsirkan maknanya sebagai: “Masuklah ke dalam ketaatan seluruhnya.” Ia menyitir pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah, Ikrimah, Rabi’ bin Anas, As-Suddiy, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, Adh-Dhahhak, berkata mereka bahwa makna ( كافة ) dalam ayat tersebut: “Beramallah dengan semua amal & seluruh bentuk kebajikan.”

Imam At-Thabari dalam tafsirnya [6] memilih pendapat yang menafsirkannya: “Masuklah ke dalam Islam keseluruhannya.” Iapun menyitir atsar lainnya dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, As-Suddiy, Ibnu Zaid dan Adh-Dhahhak yang berpendapat demikian. Ini pula pendapat Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya [7], demikian pula Imam Al-Baghawi [8], dan pengarang kitab Fathul Qadir [9].

KARAKTERISTIK ISLAM DAN MUSLIM

Islam adalah agama yang memiliki karakteristik yang khusus dan sempurna, karena ia diturunkan dari yang Maha Sempurna. Dan Allah SWT menurunkan Islam semata-mata untuk mengangkat, meninggikan, memuliakan dan menyempurnakan hamba2-Nya, karena ia tidak memiliki kepentingan (vested interest) sedikit pun atas manusia. Oleh karena itu maka seorang yang berinteraksi dengan Islam secara benar maka secara logika ia pastilah akan terbentuk, tercelup dan tersempurnakan (QS 2/138) oleh sistem yang paling sempurna (QS 5/3) yang diturunkan oleh yang Maha Sempurna melalui hambanya yang paling sempurna (QS 68/3-4).

Maka jika kita melihat kondisi kaum muslimin tidak sebagaimana karakteristik yang dipaparkan dibawah ini, maka penyebabnya adalah 1 diantara 2 hal: Apakah ia adalah seorang yang hanya memiliki pemahaman Islam yang minim dan seadanya sehingga ia tidak mampu menikmati dan menyerap seluruh nilai-nilai Islam itu dengan baik; atau ia adalah seorang yang berprasangka buruk terhadap Islam, menganggapnya sebagai cerita kuno dan identik dengan keterbelakangan sehingga ia tidak mau menyisakan waktunya untuk mempelajari Islam dengan teliti dan sunguh-sungguh.

Untuk kelompok pertama solusinya adalah dengan mempelajari Islam secara teliti dan sungguh-sungguh, bukankah anda telah memilih untuk memeluk agama ini? Maka mengapakah anda menyiksa diri anda dengan keraguan tanpa berusaha untuk memuaskan keraguan fikiran dan jiwa anda terhadap agama yang telah anda pilih ini?!

Dan untuk kelompok kedua, maka dapat dikatakan bahwa anda tidak bersikap obyektif dan adil terhadap Islam. Bagaimana anda telah mempelajari ilmu pengetahuan yang anda pelajari saat ini dengan sungguh-sungguh, bertahun-tahun lamanya, dengan membaca berbagai buku dan media, melakukan berbagai percobaan, survai dan eksperiman, mengalami keberhasilan dan kegagalan silih berganti, sampai akhirnya anda berhasil saat ini; sementara sebaliknya terhadap Islam, hanya dengan membaca dan mendengar seadanya tanpa usaha yang keras anda sudah menyimpulkan bahwa Islam identik dengan kebodohan dan keterbelakangan, apakah ini sebuah sikap yang ilmiah dan obyektif?!

Adapun karakteristik seorang muslim sebagai dampak dari Islam yang dipelajari, difahami dan diamalkannya dengan benar dan konsisten tersebut antara lain adalah:

1. Islam adalah agama yang membersihkan penganutnya dari syirik dan Islam paling sesuai dengan fitrah kemanusiaan; maka seorang muslim yang benar seharusnya menjadi seorang yang ikhlas dan lurus fitrahnya (QS 39/2;11;14, 7/172, 30/30).

2. Islam adalah agama yang sangat sarat dengan nilai-nilai dan aturan; maka seorang muslim seharusnya menjadi seorang yang bermutu dan teratur (QS 43/4, 36/1-2).

3. Islam adalah agama moralitas dan hukum; maka seorang muslim akan menjadi orang yang bermoral dan bijaksana (QS 4/36;105).

4. Islam adalah agama kebersihan dan kesucian; maka seorang muslim seharusnya menjadi orang yang bersih fisiknya serta suci jiwanya (QS 9/108).

5. Islam adalah agama ilmu dan amal; maka seorang muslim seharusnya menjadi seorang alim yang aktif beramal (QS 47/19, 2/44).

6. Islam adalah agama Ilmu dan pemikiran; maka seorang muslim haruslah menjadi seorang alim yang pemikir (QS 9/122).

7. Islam adalah agama aktifitas dan pahala; maka seorang muslim haruslah menjadi seorang aktifis yang senantiasa optimis akan ganjaran Allah SWT atas setiap pekerjaannya.

8. Islam adalah agama kekuatan dan tanggungjawab; maka seorang muslim seharusnya menjadi orang yang kuat dan dapat dipercaya (QS 28/26).

9. Islam adalah agama kemuliaan dan kasih-sayang; maka seorang muslim harus menjadi seorang yang mulia tapi penyayang (QS 9/128, 49/10).

10. Islam adalah agama negara dan ibadah; maka seorang muslim akan menjadi seorang politisi yang ahli ibadah (QS 73/20).

11. Islam merupakan agama senjata dan al-Qur’an; maka seorang muslim akan menjadi seorang mujahid yang rabbani / ahli ibadah (QS 9/111, 3/79).

12. Islam adalah agama harakah dan peraturan; maka seorang muslim akan menjadi seorang aktifis yang teratur/tidak serabutan dan sembrono (QS 9/38-39, 16/125)

ISLAM SEBAGAI SISTEM YANG MENGATUR SELURUH ASPEK KEHIDUPAN MUSLIM

Jika kita membaca dan mempelajari Tafsir al-Qur’an, baik yang dikarang oleh ulama terdahulu (salaf) maupun kontemporer (khalaf), maka akan kita dapatkan definisi cakupan Islam sebagai sistem yang memberi arahan kepada semua aspek kehidupan muslim. Dari masalah yang remeh seperti mengenai cara berjalan dan berbicara (QS 31/19) sampai dengan masalah besar seperti hukum dan undang-undang (QS 5/48-49) dapat ditemui arahannya di dalam al-Qur’an dan as-sunnah. Secara lengkap pengarahan Islam dalam al-Qur’an mengenai berbagai aspek kehidupan muslim, dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Islam sebagai agama dan idiologi (QS 6/162-164)
  2. Islam sebagai sistem yang mengatur moralitas dan tingkah-laku (QS 17/23-37)
  3. Islam sebagai pedoman yang mengarahkan perasaan (QS 57/22-23, 4/104)
  4. Islam sebagai pedoman dalam sistem pendidikan (QS 96/1-5, 3/164)
  5. Islam sebagai pedoman dalam sistem sosial kemasyarakatan (QS 49/11-13, 24/11-17)
  6. Islam sebagai pedoman dalam sistem politik dan kenegaraan (QS 4/59)
  7. Islam sebagai pedoman yang mengatur sistem perekonomian (QS 2/3, 59/7, 9/60;103)
  8. Islam sebagai pedoman dalam sistem kemiliteran (QS 8/39,60-61)
  9. Islam sebagai pedoman dalam sistem hukum dan perundangan (QS 5/50)

Wallahu waliyyu at-Taufiiq…

Catatan Kaki:

[1] Tafsir Al-Baghawi, I/240

[2] Tafsir Jallalain, I/41

[3] Tafsir Al-Wajiz, I/160

[4] Tafsir Zaadul Masiir, I/224

[5] Tafsir Ibnu Katsir, I/335

[6] Tafsir At-Thabari, II/335

[7] Tafsir Al-Qurthubi, III/26

[8] Tafsir Al-Baghawi, I/240

[9] Tafsir Fathul Qadir, I/321



Dipetik daripada al-ikhwan.net

Ya Ikhwati Al-Ahibba'


BANGKITLH SAUDARAKU....................
Sejarah islam telah membuktikan bahawa islam merupakan agama yang hebat dan terbaik sebagai cara hidup(3:19). Islam menyediakan segala penyelesaian kepada semua masalah yang pernah, sedang, dan akan wujud. Maka benarlah sabda Rasulullah S.A.W
" Islam itu tinggi dan tidak ada yang tinggi daripadanya"
Kita kini mampu berbangga dengan sejarah yang pernah dilakarkan oleh generasi terdahulu yang mampu mewujudkan satu tamadun baru ( new civilization) menggantikan tamadun-tamadun sebelumnya yang nyata pincang dengan teori-teori karut yang bertentangan denaga fitrah alam dan manusia.
Islam mempunyai tokoh-tokoh yang tidak dapat dipertikaikan kemampuan mereka dalm mengemukakan teori-teori baru dalam pelbagai bidang. Ibnu Khaldun misalnya terkenal sebagai seorang pelopor tamadun yang unggul, Ibnu Sina terkenal dengan bukunya "Al-Qanun Fi Tibb" yang sehingga kini menjadi rujukan sarjana-sarjana moden, dan ramai lagi tokoh-tokoh islam yang lain mencetuskan revolusi yang amat berguna.Suatu ketika dahulu, kita miliki kekuatan daripada segenap aspek. Ketenteraan, ekonomi, dan politik dikuasai oleh orang islam. Suara umat islam didengari dan dihormati. Kita mampu menjadi pentadbir yang mampu mencorakkan dunia dengan nur islam yang cahayanya menghapuskan kegelapan jahiliyyah (2:257)
Namun kini Islam seakan-akan hilang taringnya, ia tidak lagi dihormati dan dakagumi. Dimanakah silapnya?
Adakah kerana penganutnya sedikit berbanding penganut agama lain?
Sesungguhnya bilangan umat islam hari ini jauh lebih ramai jika dibandingkan dengan umat islam sewaktu Rasulullah masih lagi hidup. Namun mereka mampu menundukkan keangkuhan jahiliyyah dengan keizzahan islam. Lupakah kita kisah peperangan Badar. Jumlah umat islam ketika itu yang jauh lebih sedikit (313) berbanding orang kafir( 1000) tidak menjadi alasan kepada islam untuk tewas.Nyata, bilangan bukanlah penyebab kepada kedaifan umat islam pada masa ini. Benarlah sabda Rasulullah S.A.W:
" Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebut kamu seperti orang yang sedang makan memperebut makanan atas hidangan". kemudian ada sahabat bertanya " Apakah saat itu kita berjumlah sedikit?" Rasulullah menjawab " bahkan jumlah kamu banyak, namun kamu hanyalah buih di atas bah dan ALLAH akan mencabut rasa takut daripada dalam diri musuh-musuh kamu terhadap mu, sementara dia meletakkan penyakit al-wahnu di dalam hati kamu", ada sahabat bertanya lagi " wahai Rasulullah, Apakah al-wahnu itu?" Baginda menjawab, "cinta dunia dan takut mati"
(Riwayat Abu Daud)
Justeru, kita harus sedar bahawa islam bukan ditegakkan oleh penganutnya yang ramai (mempunyai kualiti buih) tetapi oleh individu-individu yang benar-benar beriman dan yakin dengan janji ALLAH. Buih-Buih akan wujud dengan bayak ketika banjir atau pada gigi-gigi ombak namun ia akan pecah,musnah,dan hancur walaupun tersentuh sebutir pasir. Begitulah lemahnya ketahana buih untuk terus bertahan seperti lemahnya umat islam hari ini mempertahankan iman, akidah, dan akhlak islam yang hakiki. Kini, kita malu untuk mempamerkan akhlak islam kerana dianngap ketinggalan zaman dan malu untuk menyatakan islam kerana terasa hina. Pelik tapi itulah hakikatnya. Kita bangga jika mampu menghafal lirik "My All", "Behind The Hazel Eyes", "Aduh Saliha", dan banyak lagi tapi sukar sekali menghafal satu ayat Al-quran. Mungkin inilah masa yang disabdakan Rasulullah lebih 1400 tahun dahulu. mungkin kitalah generasi yang mengidap penyakit al-wahnu. Siapa yang takut dgn umat islam hari ini ? Lihat bagaimana saudara-saudara kita diperlakukan di Iraq, Palestin,Afghanistan,Ambon dan negara-nagara islam yang lain? Atau mungkin kita sendiri tidak pernah ambil tahu tentang peristiwa ini. maklumlah kita sibuk dengan maksiat yang dilakukan setiap hari, sibuk menonton Akademi Fantasia, Malaysian Idol, sibuk menonton bola sepak, dan pelbagai kesibukan yang lain, mungkin bagi kita satu gol dan satu babak cerita lebih penting daripada satu myawa orang islam. Jika inilah kita, maka kitalah generasi yang disebutkan dalam hadis diatas.
Tanyalah diri kita, apa sebenarnya tujuan kita hidup? Belum cukupkah lagi maksiat yang kita lakukan? Belum tibakah masa untuk kita kembali kepada ALLAH?(57:16).Hari ini kita hebat dalam bercakap tetapi lemah dalam bertindak dan bangga dengan sejarah tapi tak mampu mngukir sejarah baru. Cukuplah kita tertipu dan diperbodohkan.Sesungguhnya manusia sentiasa merasa berjasa dengan agama(49:17) lantas kita mengharapkan syurga. Cukupkah ibadah dan amal kita untuk memasuki syurga ALLAH?(2:214)
Ayuh, kembalilah! kita punya potensi untuk kembali hebat. Lihat bagaimana ALLAH menyifatkan kita sebagai generasi terbaik dalam Al-quran(3:110). Marilah sama-sama kita menjadi generasi peganti yang akan mencorakkan dunia(5:54).Sedarlah kita perlu "bangkit" mendukung kalimah shahadah dan memperjuangkannya kerana inilah intipati dakwah para rasul(21:25) Sedarlah keadaan umat islam hari ini, apa yang kita boleh banggakan? maka benarlah sabda Rasul bahawa apa yang tinggal daripada islam sekarang hanyalah nama.
"memanglah umat islam perlu bangkit semula daripada umat yang telah ditimbus zaman,ditimbus oleh konsep hidup yang sesat, ditimbus oleh realiti hidup yang menyeleweng,ditimbus oleh sistem hidupyang pincang dan tiada kena mengena dengan islam sama sekali, tiada kena mengena dengan program islam walaupun umat itu masih menganggap dirinya sebagai umat islam dan masih memanggil negeri tempat tinggal mereka sebagai "dunia islam""
(Syed Qutb)
Persoalannya bagaimanakah caranya memulakan operasi kebangkitan islam?
Jawapannya: Mesti ada satu golongan pelopor atau kader yang menghayati cita-cita ini dan meneruskan kegiatannya dengan cara merobos ke dalam alam jahiliyyah yang sedang berpengaruh di seluruh permukaan bumi ini dengan memakai dua kaedah iaitu memisahkan diri dan membuat hubungan dibidang lain pula.
Ayuh, mari kita menjadi genarasi yang menggantikan,yang terbaik dan yang benar-benar beriman. Yakinlah kita mampu, tetapi sayang kita tertipu dengan diri , syaitan dan musuh-musuh islam. Apabila kita diajak untuk bersama berusaha menjanakan kebangkitan ini kita akan memberikan seribu satu alsan(9:44-45). Kita selalu sibuk tetapi masih sempat bermain game,masih sempat berbual kosong,dan masih mampu TIDUR. Sedarlah musuh-musuh islam berusaha bersungguh-sungguh untuk menjatuhkan islam(8:36).
Kita berhak memilih jalan yang ingin kita lalui dengan izin-Nya, namun adakah kita akan memilih jalan ke neraka, pastinya tidak kita ingini tetapi itulah apa yang kita lakukan. Bangunlah wahai saudaraku! Sesungguhnya sinar menanti dihadapan. Jangan kita lengah lagi, mari kita bersama-sama menjadi agen kebangkitan mari kita bersedia memperuntukkan masa , diri dan harta untuk usaha murni ini, kerana inilah jalan ke syurga(insyaAALAH)(9:111)
Sedarlah islam tidak pernah perlukan kita tetapi kitalah yang memerlukan islam.Janganlah kita sekadar berbangga dengan ilmu yang ada (40:83) tetapi bekerjalah untuk islam(9:105)
Sesungguhnya risalah kecil ini mungkin tidak mampu untuk merubah siapa yang membacanya selagi si pembaca belum bersedia berubah tetapi cukuplah ia sekadar permulaan untuk kita berfikir akan kebenarannya.Maka carilah kebenarannya. Kembalilah kepada al-quran dan sunnah . bukankah nabi telah bersabda:
" aku tinggalkan kamu dua perkara, seandainya kamu berpegang dengan keduanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-quran dan sunnahku"
Seandainya hati ini masih ragu-ragu maka bermunajadlah dan sujudlah kepada ALLAH agar kita dikurniakan hidayah dan akan kembali kepada-Nya, seandainya hati ini masih terlalu cintakan maksiat maka bertaubatlah(3:133-135) Percayalah saudarku masih ada jalan untuk kita kembali, maka carilah.......................
Maha Bijaksana ALLAH yang menciptakan langit dan bumi dan benarlah risalah yang dibawa Rasulullah

Tafsir surah Al-mumtahanah

Tafsir Surah Al-mumtahanah
Ayat 1-3

Al-mumtahanah bererti perempuan yang diuji. Nama surah ini diambil pada perkataan “famtahinuhunn” pada ayat ke-10 surah ini. Menurut Prof Dr. Hamka(PDH) surah ini berkaitan wanita-wanita yang bersama-sama berhijrah meninggalkan kota Makkah ke kota Madinah. Mereka telah meninggalkan kaum keluarga termasuk para suami yang masih musyrik.Surat ini sejak ayat pertama sehingga ayat yang akhir menunjukkan sikap orang yang beriman terhadap orang kafir.

Syed Qutb menggambarkan surah ini sebagai salah satu episod daripada silsilah dakwah dan tarbiyyah Rasulullah yang panjang.Ia membangun misi Rabbani dengan penuh nilai-nilai ketuhanan yang murni dan ikhlas semata-mata kerna Allah.

Justeru, marilah kita sama telusuri dan menghayati kalam-kalam Allah yang mulia yang terkandung dalam surah yang sharif ini:

1. Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuh kamu menjadi teman rapat, Dengan cara kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita rahsia orang-orang mukmin) Dengan sebab hubungan baik dan kasih mesra Yang ada di antara kamu Dengan mereka, sedang mereka telah kufur ingkar terhadap kebenaran (Islam) Yang sampai kepada kamu; mereka pula telah mengeluarkan Rasulullah (s.a.w) dan juga mengeluarkan kamu (dari tanah suci Makkah) disebabkan kamu beriman kepada Allah Tuhan kamu. (janganlah kamu berbuat demikian) jika betul kamu keluar untuk berjihad pada jalanKu dan untuk mencari keredaanKu. (tidak ada sebarang faedahnya) kamu mengadakan hubungan kasih mesra Dengan mereka secara rahsia, sedang Aku amat mengetahui akan apa Yang kamu rahsiakan dan apa Yang kamu zahirkan. dan (ingatlah), sesiapa di antara kamu Yang melakukan perkara Yang demikian, maka Sesungguhnya telah sesatlah ia dari jalan Yang betul.
2. Jika mereka dapat Menguasai kamu, nescaya mereka menjadi musuh Yang membahayakan kamu, dan mereka akan membebaskan tangan mereka dan lidah mereka terhadap kamu Dengan kejahatan, serta mereka suka kalaulah kamu juga menjadi kafir (seperti mereka).
3. Kaum kerabat kamu dan anak-anak kamu (yang tidak menurut kamu beriman) tidak sekali-kali akan mendatangkan sebarang faedah kepada kamu pada hari kiamat; Allah akan memisahkan di antara kamu semua (pada hari itu). dan (ingatlah), Allah Maha melihat Segala Yang kamu kerjakan.

Jumhur ulama tafsir sepakat mengatakan bahawa Asbabun Nuzul ayat ini ialah berkaitan peristiwa yang berkaitan sahabat yang bernama Haathib b. Abu Baltha’ah. Perisiwa ini berkaitan Haathib yang telah meminta bantuan seorang wanita bernama sarrah yang datang ke Madinah dari Makkah untuk membawa satu surat memberitahu penduduk musyrik Makkah tentang perancangan kaum mu’min menyerang kota Makkah. Peristiwa ini telah diketahui oleh baginda rasul, lantas baginda telah memerintahkan Ali b. Abi Thalib, Zubair Al-awwam, dan Abu Murtsid ( Al-Maghari menambah Ammar,Talhah, dan al-Miqdad) supaya pergi ke satu lembah bernama “khah” dan menghalang wanita tersebut.
Lantas Haathib dibawa berjumpa dengan Rasulullah S.A.W dan baginda bertanya tentang hal tersebut. Maka Haathib memberikan alasan yang diterima oleh baginda rasul dan menimbulkan kemarahan Saidina Umar tetapi ditegur oleh baginda rasul.Menurut Syed Qutb kisah tentang Hathib ini diriwayatkan secara mutawatir walaubagaimanapun yang meghubungkan ayat ini dengan kisah Haathib hanya ada pada riwayat Bukhori(Al-Maghozi). Kita tidak perlu menafikan asahnya riwayat Bukhori namun kandungan Al-quran lebih jauh jangkauaannya.

Ayat 1

Auliya’ yang disebut dalam ayat ini bukanlah sekadar merujuk kepada penolong kerana perkataan ini dalam bahasa arab boleh membawa maksud pemimpin, pemuka, sahabat karib dan orang yang melindungi. Hal ini bersesuaian dengan Haathib yang meminta tolong kepada kaum musyrikin untuk membela kaum keluarganya. Perbuatan Haathib ini dianggap sebagai satu pengkhianatan walaupun dia lakukan atas dasar cinta.Allah telah mengingatkan bahawa mereka telah menjadi musuh Allah kerana mereka kufur( Prof. Dr. Hamka). Al-Maraghi mengatakan bahawa Allah menyatakan 2 alasan untuk memisahkan persahabatan antara kaum muslim dan musyrik.
i)Mereka telah kufar setelah datang rasul dan al-quran
ii)Mereka mengusir rasul dan sahabat-sahabatnya
PDH menerangkan sebab kedua sebagai sikap permusuhan terbesar yang ditunjukkan kaum musyrik ke atas orang beriman. Allah telah menegaskan dalam ayat ini bahawa siapa yag berjihad untuk mencari keredhaan-Nya maka tidak boleh berteman dengan orang musyrik.Allah telah memberi peringatan pada penghujung ayat ini.

Ayat 2

Dalam ayat ini jelas menggambarkan, walaupun orang beriman memecahkan rahsia atas dasar cinta mereka tetap akan menjadi musuh. Hal ini kerana seandainya orang musyrik menang dalam peperangan tersebut maka mereka tidak akan bersahabat atau membela orang yang beriman yang membantu mereka. Al-maraghi dengan jelas menyatakan dalam tafsirnya bahawa akan berlaku 3 keadaan seandainya kemenangan berpihak kepada kaum musyrik:
i) Mereka akan menjadi musuh
ii) Mereka akan melemparkan tangan dan lidah untuk menyakiti mu’minin secara fizikal dan emosi
iii) Mereka menginginkan kekafiran terhadap orang beriman
Syed Qutb dalam tafsirnya menjelaskan bahawa keadaan yang ketiga paling teruk.Hal ini kerana, perkara itu bagi setiap mu’min lebih keras dan menyakitkan daripada penyeksaan lain samada tangan dan lisan daripada orang kafir. Musyrikin menginginkan kerugian terbesar dalam hal yang paling dicintai orang beriman.

Prof Dr. Hamka pula memberi satu konklusi bahawa ayat ini secara langsung menggambarkan akibat yang bakal ditanggung orang beriman seandainya kalah dalam peperangan.

Ayat 3

Prof Dr. Hamka mengatakan seandainya pegangan hidup sudah berbeza maka tiada lagi manfaatnya mempertahan keluarga. Sirah telah membuktikan bahawa hal inilah yang telah memisahkan Abu Quhafah dan Abu Bakar, dan Abu Bakar dengan Abdurrahman. Keadaan ini juga memisahkan para anbiya’ seperti Nuh a.s dan Luth a.s dengan keluarga mereka, serta Asiah dengan suaminya Firaun Laknaatullah ‘alaih. Syed Qutb menegaskan bahawa tiada ikatan lain yang dapat mengikat hati manusia kepada Allah melainkan ikatan iman. Pada penghujung ayat ini Allah telah memberikan peringatan yang jelas bahawa dia maha mengetahui segala sesuatu.

Istifadat min as-sirah

Dalam sirah ini terdapat beberapa pengajaran yang harus diambil oleh setiap manusia terutamanya para pendakwah sebagai pedoman.

Peristiwa Haathib ini menggambarkan dengan jelas bahawa hakikat fitrah manusia itu amat mencintai kaum kerabat.Justeru kita perlu berhati-hati dalam hal kecintaan ini kerana Allah ebih layak untuk kita cintai atas segala sesuatu.Maka kecintaan kita terhadap sesuatu yang mengundang kemurkaan Allah harus dijauhi. Walaubagaimanapun hal ini tidak bermaksud menafikan hak kaum kerabat untuk dicintai oleh kita. Justeru kita harus memahami al-quran secara keseluruhannya bagi memahami hal ini. Allah telah melaknat mereka yang beriman dengan sebahagian al-quran an kufur pada sebahagian yang lain.

Syed Qutb menjelaskan bahawa peristiwa ini mengandungi satu makna yang mendalam bahawa setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Lihat bagaimana Haathib sebagai seorang ahli badr yang tidak perlu dipertikaikan keimanannya masih lagi melakukan kesalahan. Justeru, kita harus memahami bahawa kita dan sesipa sahaja akan tetap melakukan kesalahan walupun benar pada pandangan kita. Hal ini terjadi kerana Haathib tidak bermksud mengkhianat kerana hal tersebut dilakukannya atas dasar fitrah mahabbah insani. Keimanan dan kejujuran Haathib jelas apabila beliau mengatakan “ aku ingin mendapatkan bantuan Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku an harta bendaku” apabila ditanya oleh baginda rasul. Jelas disini menunjukkan bahawa beliau yakin yang memelihara keluarganya ialah Allah, Quraisyun hanyalah sebagai wasilah terbaik pada pandangannya.

Keindahan dan akhlak Rasulullah yang agung tergambar dengan jelas dalam ayat ini bahawa baginda tidak terburu-buru dalam menghukum Haathib walaupun kesalahannya begitu jelas. Malahan bginda bertanya terlebih dahulu kepda Haathib dengan penuh kasih-sayang dan dada yang lapang sebab perbuatannya itu. Hal inilah yang perlu dicontohi oleh para murobbi. Haruslah mereka bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan sebarang konklusi terhadap kesalahan murobba. Mereka haruslah medengar alasan yang diberikan oleh murobba dengan dada yang lapang dan fikiran yang tajam tanpa sedikitpun perasaan prejudis. Adalah lebih baik melihat kesalahan yang ada pada diri kita terlebih dahulu tanpa menafikan kesalahan yang dilakukan mereka seperti yang telah ditunjukkan oleh nabi Sulaiman a.s. Sikap ini penting kepada seorang murobbi dalam memastikan keadaan sentiasa tenang. Sikap ini dapat mengawal sikap agresif murobba lain dalam memberikan konklusi dan solusi terhadap sesuatu masalah.

Rujukan:
i) Syed Qutb,Tafsir Fi Zilalil Quran,Jilid 22,Gema Insani
ii)Prof Dr. Hamka,Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXVIII,Pustaka Panjimas
iii)Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,Jilid 28,CV Toha Putra Semarang


Maha benar Allah, Wallahu a’lam,

RISALAH IMAN (siri 2)


Iman menurut pengertian yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi sepenuh pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Jadi iman bukanlah semata-mata ucapan lidah, bukan sekadar perbuatan dan bukan pula hanya merupakan pengetahuan tentang rukun iman.
Justeru iman bukanlah terletak pada lidah sang dai’e kerana hal ini jauh terpesong daripada pengertian iman yang sebenarnya. Bukankah perbuatan seperti ini lebih dekat dengan sifat orang munafik seperti yang digambarkan oleh ALLAH di dalam Al-quran (2:8-9). Mereka hanya bersaksi dengan lidah mereka sedang dalam hati mereka penuh dengan kegelapan jahiliyyah lantas ALLAH yang maha bijaksana yang mengetahui pendustaan mereka telah menolak kesaksian mereka terhadap iman.
Seringkali kita menganggap kita telah beriman, apabila menilai ibadah yang telah kita lakukan. Malang sekali seandai kita masih belum memahami makna iman sebenarnya. Hal ini kerana amal perbuatan kita semata-mata masih belum cukup untuk melertakkan kita dalam kelompok orang beriman. Hal ini bertepatan dengan firman ALLAH (4:142). Iman itu bukan pula semata-mata mengerjakan amal-amal syiar yang biasa dikerjakan oleh orang beriman. Hal ini kerana betapa ramai pembohong-pembohong yang bisa menzahirkan amal mereka dengan penuh khusyuk tetapi hati mereka kosong daripada rasa ikhlas, cinta ,dan harap.
Iman juga bukanlah sekadar mengetahui hakikat iman. (An-Naml:14)(2:146).Justeru sekali lagi kita menyedari bahawa iman tidak mungkin kita peroleh sekadar menghadiri kuliah-kuliah ataupun halaqah tetapi kita perlu bermujahadah dalam memahami dan mengintepretasikan iman dalam kehidupan
Ayuh kita menilai diri kita, adakh kita telah beriman?
Tidak malukah kita untuk kita mengaku kita beriman sedagkan kita masih bergmbira melakukan MAKSIAT kepada ALLAH, masih enak menghabiskan masa kita dengan perkara-perkara LAGHO, masih berDENGKI sesama muslim, dan masih membiarkan diri kita dikuasai oleh SYAITAN dan HAWA NAFSU.
Wahai ikhwah sekaian,
Sedarlah bahawa iman itu masih terlalu jauh daripada kita.Lantas, apakah masih ada ruang untuk kita berlengah.Adakah kita ingin membiarkan kematian menjemput kita sebelum sempat kita merasai kemanisan iman seperti yang dirasai oleh para rasul dan sahabat.
Cukuplah maksiat yang telah kita lakukan selama ini.
Ayuh mari kita segera bangun daripada lena yang dibuai oleh syaitan dan hawa nafsu,
Ayuh kita bangkit sebagai pejuang keimanan yang tidak pernah kenal erti kalah dan putus harap.
Ayuh kita lalui jalan ini,(12:108) jalan para nabi dan shuhada’
Ayuh kita hadapi segala kesakitan yang ada pada jalan ini hanya untuk merasai manisnya iman dan indahnya syurga
Masa yang kita ada kian suntuk, janganlah lagi berlengah kerana jalan ini hanya bisa ditempuhi oleh orang yang bersegera dan kental
Ayuh kita hidup dan mati sebagai orang yang beriman.
Belum tiba lagikah waktunya…..? (57:16)

RISALAH IMAN (siri 1)

Kini, manusia hanyalah seperti binatang bahkan lebih sesat, jijik dan hina daripada itu. Maka benarlah firman ALLAH dalam al-quran (7:179). Persoalan yang wajar bermain dalam benak kita ialah “ mengapakah keadaan manusia seperti ini, sedangkan manusia kini menguasai sains dan teknologi, mampu menjelajah ke dalam dasar bumi, meneroka segenap cerekawala,merentas samudera,meredah sempadan geografi dunia dan bercakap dengan pelbagai teori dan fakta walau berdusta?.Jawapan ini tidak pernah kita peroleh dengan asal fikiran manusia yang dangkal. Maka jelajahilah al-quran dan telusurilah sunnah, nescaya kita akan menemui jawapannya.
Ketahuilah ikhwati al-ahibba’ jawapannya ialah IMAN
Manusia akan terus bersikap dan berakhlak jahiliyyah sehinggalah iman meresap masuk ke dalam hati mereka lantas membuang karat-karat jahiliyyah,menyuci dan menyinarkan cahaya dalam jasad mereka, mengubah fikrah dan akhlak mereka,dan mencorak hidup mereka sekaligus lahirlah individu baru hasil celupan iman dan taqwa (2:138)
dan berjalan bersama cahaya di tengah-tengah masyarakat(6:122)
Manusia tanpa iman akan hidup dalam dimensi yang mereka sendiri ciptakan,keindahan yang mereka sendiri bayangkan dan kejayaan yang mereka sendiri iktiraf. Jauh disudut hati mereka, ingin sekali mereka terbang tapi tiada sayap, ingin mendarat tiada tanah lapang, ingin berenang tiada kekuatan,ingin kembara tiada daya,ingin berlari terikat kaki,ingin tidur dialas duri,dan ingin hidup tada erti.
Iman menjadikan manusia yang hina menjadi mulia dan mampu berdiri dengan teguh dan tetap pada dunia hakiki tanpa sangsi. Kata-kata serta perilaku mereka sejajar dengan kehendak rabb. Pemikiran mereka bebas daripada pengaruh toghut dan hawa nafsu.
Kalimah iman merupakan kalimah yang kukuh seumpana pohon yang akarnya terpasak kukuh ke dalam bumi dan cabangnya di langit membiru (14:24). Lantas pohon keimanan ini akan menghasilkan buah yang enak dan segar (14:25) dengan izin Tuhannya. Hal ini berbeza dengan Kalimah Khabisah yang tidak ada tempat di muka bumi. Pohon Khabisah ini hanya akan ditebang dan dibuang seandainya tumbuh di bumi(14:26)
Orang yang beriman sentiasa dalam perhatian Tuhannya dan mereka akan memperoleh pertolongan dan ketenangan.(9:40).
INGATLAH kalimah ALLAh lah yang tetap akan tinggi sedang seruan jahiliyyah itu tataplah yang terendah dan terhina.
IMAN MENJADIKAN…………………
Seorang hamba kenal akan tuannya dan sedia berkhidmat tanpa mengira masa dan kelelahan yang ditanggung……
Seorang pencinta akan mengenali kepada siapa yang harus lebih dia cintai dan mempunyai misi cinta yang jelas serta kepada siapa yang harus dibenci………..
Dan….
seorang daie’ akan tetap terus berdakwah meski dihina, akan terus berjalan walupun kepatahan dan kelelahan, akan terus berjuang walaupun kelumpuhan, dan akan terus berjihad selagi syahid belum mengundang…

Followers

Muslimkaffah © 2008 Template by Dicas Blogger Supplied by Best Blogger Templates

TOPO